Kisah Abdul Kahar-Aril Syahbani, Bapak-Anak Relawan Sulsel di Sulteng

PALU -- Gempa bermagnitudo 7,4 yang disertai dengan tsunami di Palu, Donggala dan Sigi yang dampaknya juga dirasakan di daerah sekitar, menyabkan setidaknya 1.558 orang meninggal dunia, luka-luka tak terhitung jumlahnya, kerusakan infrastruktur hebat dan masih menyisahkan trauma yang dalam bagi yang selamat.

Bantuan begitu besar, baik logistik dan juga relawan. Semua elemen turut membantu, tidak terkecuali bagi relawan bapak dan anak, Abdul Kahar Kudus dan Muhammad Ariel Syahbani. 

Mereka dilepas oleh Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah bersama ribuan tim bantuan bencana lainnya, Minggu (30/9).

Abdul Kahar sendiri merupakan Sekretaris Satpol PP Sulsel, sementara anaknya, Ariel Syahbani adalah Lurah Sawerigading, Kecamatan Ujung Pandang, Kota Makassar.

"Ini pengalaman saya pertama kali menjadi relawan bersama Bapak," kata Aril.

Ia bersama ayahnya, harus menempuh perjalanan laut selama 27 jam sebelum akhirnya tiba di Pelabuhan Pantoloan, Palu pada Selasa (1/10) pukul 12.00 Wita.

Saat akan berangkat, tidak ada persiapan khusus, hanya membawa obat dan multivitamin.

"Paling pribadi obat-obatan dan vitamin serta baju seadanya," sebut pria kelahiran tahun 1988 yang telah menjadi lurah sejak tahun 2016.

Sementara, sang Ayah, Abdul Kahar begitu bangga, karena pada misi kemanusiaan ini Ia bisa berangkat bersama anak kebanggaannya tersebut. Tekat dan semangat membawa mereka kesana.

"Ia anak saya, kami membawa tekat dan semangat membantu saudara-saudara kita, yang tertimpa musibah," ujarnya, Jum'at (5/10).

Ia berangkat bersama 25 orang dari Satpol PP Provinsi dan 9 orang relawan, Aril tergabung dalam relawan terlatih yang diberangkatkan.

"Kami harus terlibat, untuk meringankan beban saudara-saudara kita," ucapnya.

Abdul Kahar dan Aril, saat tiba pertama kali mereka berdua langsung menuju ke Rumah Jabatan Wali Kota Palu untuk membantu para warga yang berposko, kemudian melakukan pertolongan pada beberapa titik pengungsian dan evakuasi.

Mereka pun setelah bertemu para korban, semakin kuat terdorong panggilan jiwa untuk memberikan pertolongan dan bantuan yang terbaik.

Imbuhnya, saat mereka bertemu orang Sulsel di sana, korban menyambut mereka dengan ekspresi bahagia. Mendapat kunjungan dari saudara sekampung. Tangis haru juga mewarnai mewarnai pertemuan mereka.

"Sejatinya, kepedulian yang mereka harapkan bukanlah semata-mata berupa materi, toh mereka sanggup bertahan hidup sekalipun tidak makan dan minum pasca gempa," tutur Abdul Kahar.

Mereka, masih akan berada di sana dengan masa waktu seminggu berdasarkan perencanaan awal, namun ada kemungkinan masih diperpanjang.

"Lelah mungkin ada, namun kepedulian yang dilandasi komitmen persaudaraan dapat menumbuhkan semangat kami dan keyakinan untuk bangkit kembali agar mereka kembali menapak roda kehidupan," pungkasnya.(*)