Sulsel Pelopor Jaminan Keselamatan Kerja Pada Relawan

MAKASSAR - Guna memberikan rasa tenang, aman dan jaminan keselamatan kerja kepada para relawan masalah kesehatan sosial dalam bekerja, Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Selatan dan BPJS Ketenagakerjaan melakukan penandatanganan MoU Program Jaminan Sosial Ketenegakerjaan, di Rumah Jabatan Gubernur, Jum'at (8/6).

Para relawan ini mencakup, Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK), Taruna Siaga Bencana (Tagana), Pendamping Keluarga Harapan (PKH), dan Pelopor Perdamaian. 

Penandatanganan dan pemberian jaminan sosial ketenagakerjaan kepada para relawan ini merupakan yang pertama di Indonesia. 

"Hari ini kita memberikan keselamatan, ada asuransi, ada jaminan sosialnya untuk saudara-saudara dilindungi. Untuk itu, Sulsel mempelopori kerjasama dengan BPJS agar saudara tenang dan nyaman karena di lapangan ada resiko besar," kata Penjabat Gubernur Sulawesi Selatan, Sumarsono. 

Bagi Sumarsono, relawan adalah pekerjaan mulia. Mereka membantu tidak melihat latar belakang yang ada. Tidak menanyakan apa agama, suku dan daerah asal. Oleh karena itu, relawan tidak ternilai. Pemerintah pun tidak dapat melakukan program dengan baik kepada masyarakat. 

"Relawan tidak bisa dinilai dengan uang dan nilai tertentu. Untuk itu, saya berikan penghargaan atas segala kontribusinya, mereka setengah malaikat," ujarnya. 

Sementara, Kepala Dinas Sosial Provinsi Sulsel Ilham Gazaling, mengatakan, kegiatan ini dalam rangka mendukung masalah kesehatan sosial atau PMKS di Sulsel. Sekaligus, bentuk silaturahim dan perhatian pada relawan.

Adapun relawan Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) di Sulsel terdiri dari Tagana 1.424 orang, TKSK 306 orang, PKH 1.060 orang, dan pelopor perdamaian 54 orang. 

"Relawan ini berfungsi untuk mempercepat proses penanganan penyandang masalah kesejateraan sosial di Sulsel," terangnya. 

Andi Ille, sapaan akrabnya, menyebutkan, anggota Tagana yang telah terdaftar di BPJS Ketenagakerjaan mencapai 642 orang. Sementara untuk TKSK telah terdaftar secara keseluruhan, yaitu 306 orang. Melalui program ini, perlindungan tidak hanya diberikan pada relawan, tetapi juga bagi keluarga mereka. 

"Sulsel menjadi provinsi pertama yang menginisiasi perlindungan sosial bagi Tagana. Langkah Sulsel ini kemudian diikuti oleh sejumlah provinsi lain, seperti Jawa Timur dan Bengkulu," tuturnya. 

Pada acara ini juga diserahkan tali asih pada para relawan. (*)