PKK
PKK

0 43

Makassar, humas.sulselprov.go.id – Plt Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Sulsel, Naoemi Octarina, menghadiri Bakti Sosial yang diselenggarakan Departemen Ilmu Kesehatan Anak (DIKA) Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, yang berlangsung di jalan Pannampu, Sabtu, 23 Oktober 2021.

Dalam sambutannya, Naoemi Octarina menyampaikan, momentum ini sangat tepat untuk memberikan edukasi kepada masyarakat, terutama ibu-ibu yang memiliki anak bayi dan balita ataupun usia 12 tahun ke atas.

Iapun mengaku sangat mendukung kegiatan ini, dan juga dari Tim Penggerak PKK Provinsi Sulsel sudah bekerjasama dengan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) terkait masalah pemenuhan gizi anak dan penurunan angka stunting di Sulsel.

“Kita berharap agar kegiatan ini bisa terus berjalan karena masyarakat butuh banyak edukasi terutama tentang gizi untuk anak-anak. Jadi, kita perlu ubah mindset orang tua terkait asupan gizi untuk anak-anak,” harapnya.

Lebih lanjut, Naoemi Octarina meminta kepada orang tua yang memiliki anak usia 12 tahun keatas agar bisa mengizinkan anak-anaknya untuk segera divaksin. Apalagi, pembelajaran tatap muka akan segera dimulai.

Ia juga mengingatkan kepada masyarakat yang hadir, bahwa sekarang ini Makassar sudah turun ke level dua terkait penanganan Covid-19. Tetapi, kita tidak boleh lengah sedikitpun. Tetap menerapkan protokol kesehatan dan menjalankan 5 M.

Di tempat yang sama, Ketua Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Dr dr Aidah Juliaty, mengatakan, kegiatan ini rutin dilaksanakan tiap enam bulan sekali. Mengadakan bakti sosial, dalam hal ini pengabdian kepada masyarakat.

Dari Universitas Hasanuddin sendiri, jelasnya, memiliki tiga ranah yakni Tridharma Perguruan Tinggi, sudah masuk didalamnya pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

“Untuk pengabdian masyarakat, secara rutin kita laksanakan. Semoga kegiatan ini bisa bermanfaat dan bisa memberikan penyuluhan dan membuka pikiran warga tentang penyuluhan vaksinasi Covid 19 dan imun terbaru yang sudah bisa dilakukan kepada anak-anak di usia 12 tahun keatas. Sehingga, para orangtua ini patuh Imunisasi dan mau ke puskesmas,” tandasnya.

Hadir dalam kegiatan ini, Plt Lurah Suangga Suardy, Camat Tallo Aulia Arsyad, LPM Camat Tallo, Ketua RT/RW se Kelurahan Suangga, Tokoh Masyarakat, dan Babinsa. (*)

0 39

Maros, humas.sulselprov.go.id – Tim Penggerak PKK Sulsel bekerjasama dengan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Sulsel serta PLN Peduli, menggelar Sosialisasi Pentingnya Kepemilikan Akta Kelahiran Menuju Keluarga Indonesia Sadar Administrasi Kependudukan (KISAK) Provinsi Sulawesi Selatan. Sosialisasi dibuka secara resmi oleh Bupati Maros, Chaidir Syam, di Ruang Pola Kantor Bupati Maros, Kamis, 21 Oktober 2021.

Turut hadir, Kepala Disdukcapil Sulsel Sukarniaty Kondolele, Pelaksana Tugas Ketua TP PKK Sulsel Naoemi Octarina, dan Ketua TP PKK Maros Ulfiah Nur Yusuf. Sosialisasi ini menghadirkan peserta, ketua organisasi perempuan dan pengelola panti asuhan.

Naoemi Octarina mengatakan, sangat penting bagi anak-anak kita memiliki akte kelahiran. Karena di awal kehidupan, setelah anak lahir, mereka sudah harus memiliki dokumen kependudukan agar bisa menikmati fasilitas publik.

“Ketika anak-anak kita masuk sekolah, masuk rumah sakit, akan bepergian, semua butuh dokumen kependudukan,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, banyak anak-anak yang belum memiliki akta kelahiran. Khususnya anak-anak yang tidak lagi memiliki orangtua, dan tinggal di panti asuhan. Karena itu, hal ini harus menjadi perhatian kita bersama.

“Saya pernah kunjungan ke panti asuhan, dan saat saya tanyakan ternyata anak-anaknya belum memiliki akta kelahiran. Pengelola panti asuhan harus memperhatikan ini,” terangnya.

Naoemi berharap, pola pikir masyarakat tentang administrasi kependudukan bisa berubah. Karena masih banyak masyarakat, yang baru mengurus administrasi kependudukannya ketika memiliki masalah.

“Saya harap, para peserta sosialisasi ini bisa mensosialisasikan pentingnya administrasi kependudukan ini kepada orang-orang di sekitarnya,” harapnya.

Istri Andi Sudirman Sulaiman ini juga mengucapkan terima kasih kepada PT PLN atas bantuannya melalui program PLN Peduli, sehingga sosialisasi ini bisa terlaksana.

Sementara, Bupati Maros, Chaidir Syam, mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan PKK bekerjasama dengan Disdukcapil Sulsel ini. Ia juga berterima kasih, karena telah memilih Kabupaten Maros, sebagai lokasi sosialisasi.

“Sosialisasi ini penting, dan saya berharap semua anak bisa memiliki akta kelahiran. Dokumen ini juga merupakan bentuk pengakuan negara atas status anak kita sebagai warga negara,” kata Chaidir, yang membuka secara resmi acara sosialisasi tersebut. (*)

0 46

Makassar, humas.sulselprov.go.id – Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman menghadiri kajian Andalan Mengaji yang digelar Tim Penggerak PKK Sulawesi Selatan, di Gedung Balai Kartini, Jalan Masjid Raya, Makassar, Sabtu, 16 Oktober 2021.

Kajian yang digelar secara hybrid tersebut menghadirkan Ustadz Firanda Andirja, Lc, M.A, dengan mengangkat tema kajian “Waspada Penyakit ‘Ain”.

Andi Sudirman menuturkan penyakit ‘ain benar adanya, sehingga sepatutnya diketahui seperti apa penyakit ‘ain dan bagaimana mengobati penyakit tersebut.

“Banyak saya dapatkan orang seperti itu karena kagum melihat sesuatu hal, terlalu memuji, jadi hati-hati penyakit ain. Dalam Islam kita patut pelajari bagaimana sahabat dahulu mempelajari seperti ini,” katanya.

Terlebih lagi, lanjut Andi Sudirman, penyakit ‘ain bisa menyebabkan kematian. “Sehingga, kajian ini penting kita pelajari,” tegasnya.

Ustadz Firanda dalam kajiannya menyampaikan penyakit al ‘ain adalah penyakit yang berbahaya. Namun berbagai persepsi muncul atas penyakit tersebut. Ada pula orang yang menolak karena tidak percaya, ada pula yang fanatik sehingga mengaitkan berbagai masalah dengan penyakit ‘ain.

“Ada yang menolak tidak percaya dengan penyakit ‘ain, mungkin karena menurutnya tidak logis hanya dengan melihat orang bisa sakit,” ucapnya

“Benar bahwasanya penyakit al ‘ain adalah penyakit yang berbahaya, sampai dalam hadis disebutkan mayoritas umatku yang meninggal diakibatkan penyakit ‘ain,” tegasnya.

Penyakit ‘ain, menurutnya Ustadz Firanda, tidak mesti disebabkan akibat pandangan buruk seseorang kepada orang lain, tetapi juga bisa disebabkan pandangan kagum terhadap orang lain.

Pencegahannya, katanya, bisa dilakukan dengan membentengi diri dengan membaca zikir pagi dan petang, membaca doa, serta tidak terlalu memuji dan tidak memandang buruk sesuatu yang dipandangnya.

“Ketika kita melihat sesuatu yang mempesona, hati-hati itu ciri kita sedang mengain. Pandangan yang tidak biasa itu ‘ain. Tapi jangan lupa mendoakan atas pandangan kita tersebut,” ungkapnya.

Bagaimana menghadapi hal ini?, Ustadz Firanda menyebutkan selain membentengi diri dengan membaca zikir pagi dan petang, sikap pamer dan mencari perhatian secara berlebihan juga perlu dihindari, tidak menceritakan kenikmatan yang dimiliki kepada orang lain. “Setiap melihat kenikmatan jangan lupa memuji nama Allah Subhana Wa Ta’ala, Masha Allahu Quwata Illabillah,” terangnya.

Untuk pengobatannya, Ustadz Firanda mengatakan, selain melalui ruqyah, pengobatan terhadap ‘ain dilakukan dengan meminta orang yang memuji untuk berwudhu atau mandi dan menyiramkan sekali ke tubuh.(*)

0 32

Makassar, humas.sulselprov.go.id – Pelaksana Tugas Ketua Tim Penggerak PKK Sulsel, Naoemi Octarina, membuka Lokakarya Persiapan Pelaksanaan LiLA (Lingkar Lengan Atas) Keluarga, yang dilaksanakan secara virtual, Selasa, 5 Oktober 2021. Lokakarya yang dilaksanakan Jenewa Madani Indonesia ini diikuti tujuh puskesmas dari Kabupaten Pangkep dan Takalar, yang akan dijadikan sebagai pilot project.

Dalam sambutannya, Naoemi menyebut balita merupakan kelompok rentan terhadap kekurangan gizi atau gizi buruk. Mereka membutuhkan nutrisi yang optimal untuk perkembangan dan pertumbuhannya, dan para orangtua harus bisa melakukan deteksi dini.

“Melalui pelaksanaan LiLA keluarga ini, kita berharap para orangtua bisa melakukan deteksi dini. Begitupun dengan para kader Posyandu,” harap Naoemi.

Bunda Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Sulsel ini menegaskan, persoalan gizi buruk penting untuk ditanggulangi bersama, karena pada balita yang kurang gizi akan mempengaruhi intelektual anak hingga sistem kekebalan tubuh mereka. Selain itu, bisa mengakibatkan infeksi berkepanjangan, bahkan terjadi resiko kematian.

“Kekurangan gizi atau kasus gizi buruk tidak hanya menyebabkan gangguan kesehatan fisik, tetapi juga gangguan mental pada anak,” imbuhnya.

Apabila masalah kekurangan gizi bisa dideteksi lebih awal melalui LiLA, menurut Naoemi, penanganan bisa dilakukan lebih cepat. Karena itu, lokakarya ini sangat penting. Tujuh puskesmas yang mengikuti lokakarya ini bisa menurunkan ke Posyandu, sekaligus meningkatkan kesadaran para orangtua terhadap kesehatan balita mereka.

“Semoga kegiatan ini bisa berjalan lancar dan tepat sasaran,” harapnya.

Sementara, CFO UNICEF Makassar, Henky Widjaja, mengatakan, anak kekurangan gizi atau gizi buruk memiliki risiko kematian 12 kali lebih tinggi dibandingkan balita yang berstatus gizi normal. Dan pandemi Covid-19 ternyata turut mempengaruhi meningkatnya kasus kekurangan gizi ini.

“Pandemi ini mengakibatkan banyak kepala keluarga yang kehilangan pekerjaan atau mengalami penurunan penghasilan, yang kemudian mempengaruhi kemampuan keluarga terutama yang di kalangan menengah kebawah, untuk memenuhi kebutuhan sandang dan pangan serta gizi anaknya,” kata Henky.

Disamping itu, lanjut Henky, pandemi ini telah menyebabkan distorsi layanan kesehatan, sehingga seluruh sumber daya kesehatan diarahkan untuk penanganan pandemi. Sebagian masyarakat juga membatasi akses mereka ke fasilitas kesehatan, sehingga menyebabkan peningkatan jumlah kasus gizi buruk pada balita dalam dua tahun terakhir.

“Sangat mendesak bagi kita untuk mengambil tindakan cepat dan tepat, untuk memperbaiki serta mencegah peningkatan kasus gizi buruk ini,” tegas Henky. (*)

0 54

Makassar, humas.sulselprov.go.id – Upaya kebut vaksinasi Covid-19 terus dilakukan di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel). Hal itu mendukung upaya program Pemprov Sulsel yang diinisiasi oleh Plt Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman, sebagai salah satu langkah dalam menekan angka penyebaran Covid-19 dengan membentuk herd immunity (kekebalan kelompok) bagi masyarakat.

Kali ini, upaya kebut vaksinasi kembali dilakukan oleh Tim Penggerak PKK Provinsi Sulsel bekerja sama dengan Dekranasda (Dewan Kerajinan Nasional Daerah) Sulsel dan Dharma Wanita Persatuan (DWP) Sulsel. Dalam kegiatan vaksinasi selama sehari, Senin 4 Oktober 2021 itu, melibatkan Pemprov Sulsel dalam hal ini Dinas Kesehatan.

Ada tiga lokasi vaksinasi yang dilaksanakan. Yakni di Gedung Kartini PKK Jalan Masjid Raya, Kantor Dekranasda Jalan Jenderal Sudirman, dan Kantor DWP Sulsel l Jalan Mappanyukki. Hasilnya, sebanyak 400 lebih warga yang mengikuti vaksinasi Covid-19 dari ketiga tempat itu.

Vaksinasi di Gedung Kartini, sekitar 180 warga yang mengikuti vaksinasi, di Kantor Dekranasda 80 orang, dan di Kantor DWP sasaran vaksinasi mencapai 143 orang.

Kebut vaksinasi oleh PKK, Dekranasda dan DWP ini pun tak terlepas dari support Plt Ketua Tim Penggerak PKK Sulsel, Naoemi Octarina, yang juga selaku Plt Ketua Dekranasda Sulsel.

Sasaran vaksinasi ini tak hanya menyasar masyarakat umum. Bahkan diikuti dari pelayan publik, lansia, dan pelajar/remaja. Mereka mendapatkan vaksin jenis Sinovac.

Atas upaya itu, Plt Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman, memberikan apresiasi kepada PKK, Dekranasda dan DWP Sulsel.

“Alhamdulillah, kami bersyukur dan ucapkan terima kasih kepada PKK, Dekranasda dan DWP atas upaya dalam bahu membahu mendorong upaya kebut vaksinasi di masyarakat,” ujarnya.

Andi Sudirman mengakui, peran PKK, Dekranasda dan DWP yang didominasi oleh ibu-ibu sangat membantu Pemprov Sulsel dalam percepatan vaksinasi. (*)

0 29

Makassar, humas.sulselprov.go.id – Tim Penggerak PKK Sulsel bersama UNICEF Indonesia memperkuat program gizi yang dilaksanakan di Provinsi Sulsel. Hal tersebut dibahas dalam rapat koordinasi yang dilaksanakan secara virtual bersama Jenewa Madani Indonesia selaku mitra UNICEF Indonesia, Senin, 4 Oktober 2021.

Pelaksana Tugas Ketua TP PKK Sulsel, Naoemi Octarina, mengatakan, program gizi ini termasuk dalam 10 program PKK, khususnya di Pokja IV. Selama ini, PKK fokus pada penanganan gizi buruk anak-anak, kemudian bagaimana menurunkan stunting di Sulsel.

“Kami dari PKK sudah melakukan rakor dan sosialisasi untuk menyamakan persepsi mengenai stunting dan gizi buruk, sehingga deteksi dini dilakukan dengan tepat,” kata Naoemi.

Ia menuturkan, PKK juga bekerjasama dengan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan Perhimpunan Dokter Obgyn Indonesia (PDOI). Sehingga, untuk penanganan stunting dan gizi buruk ini bisa dilakukan sejak ibu dalam kondisi hamil.

“Melibatkan dokter obgyn ini penting, agar ibu hamil bisa dipantau sehingga melahirkan bayi dalam kondisi normal,” imbuhnya.

Mengenai kasus gizi buruk, isteri Andi Sudirman ini menuturkan, ada sejumlah kasus dimana para orangtua tidak mengenali jika anaknya mengidap gizi buruk. Ia juga mengaku prihatin dengan anak-anak yang mengidap hidrosepalus, sekaligus gizi buruk.

“Kami harap, ke depan ada dukungan dari UNICEF dan Jenewa Madani Indonesia agar kita bersama-sama fokus penanganan stunting dan gizi buruk ini,” harapnya.

Sementara, Nutricion Officer UNICEF Indonesia, Nike Frans, memaparkan penguatan program gizi di Provinsi Sulsel yang dilaksanakan UNICEF bersama Jenewa Madani Indonesia. Ia menegaskan, siklus mata rantai kekurangan gizi perlu diputus dari setiap kelompok umur.

Menurut Nike, ada delapan intervensi gizi spesifik yang dilaksanakan. Antara lain, pemberian TTD pada remaja putri, pemberian TTD pada ibu hamil, pemberian PMT pada ibu hamil KEK, pemberian asi ekslusif, PMBA, penilaian pertumbuhan, manajemen anak gizi buruk, dan manajemen anak kurang gizi.

“Ada empat program utama program gizi UNICEF dan Jenewa Mada Indonesia. Yakni stunting dan masalah gizi balita, pencegahan dan penanganan gizi buruk atau wasting, gizi remaja dan gizi ibu, hingga gizi bencana,” urai Nike.

Iapun berharap, PKK memberikan dukungan dalam menyukseskan program gizi spesifik. Mulai dari penguatan skrining dan rujukan, program gizi remaja dalam hal TTD rematri dan pendidikan gizi, kampanye ASI dan MP ASI, serta program gizi lainnya. (*)

0 36

Makassar, humas.sulselprov.go.id – Tim Penggerak PKK Provinsi Sulawesi Selatan mendukung upaya Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dalam kebut vaksinasi Covid-19. Hal itu dengan dilakukannya vaksinasi secara serentak oleh Tim Penggerak PKK Kabupaten/Kota se-Sulsel.

Rencananya, pelaksanaan yang dilaksanakan di masing-masing daerah akan disaksikan secara virtual oleh Plt Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman dan Plt Ketua Tim Penggerak PKK Sulsel, Naoemi Octarina pada Rabu besok, 29 September 2021.

Pelaksanaan vaksinasi massal yang diinisiasi oleh Naoemi Octarina ini akan menyasar masyarakat umum diatas usia 12 tahun, bahkan untuk ibu hamil maupun lansia. Bahkan vaksinasi Covid-19 yang akan berlangsung selama sehari ini ditargetkan sebanyak 300 ribu warga di Sulsel yang berpartisipasi untuk melaksanakan vaksinasi.

Plt Kabid Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Sulsel, Muhammadong menyampaikan, pelaksanaan vaksinasi Covid-19 ini sejalan dengan program Pemprov Sulsel dibawah arahan Plt Gubernur Andi Sudirman Sulaiman dalam upaya kebut vaksinasi. Dengan tujuan untuk membangun herd immunity (kekebalan kelompok) bagi masyarakat.

“Harapan bapak Plt Gubernur, ditargetkan setiap desa/kelurahan sebanyak 100 orang. Jadi dari 3.047 desa/keluarahan di Sulsel, kita targetkan sekitar 300 ribu warga yang divaksin pada Kebut Vaksinasi serentak oleh PKK besok,” ujarnya, Selasa (28/9/2021).

Lanjut dia, bahwa Plt Gubernur pun menginstruksikan agar stok vaksin Covid-19 di kabupaten/kota untuk segera dihabiskan.

“Stok vaksin sudah ada di daerah masing-masing. Kebut vaksinasi oleh PKK ini juga sebagai ajang untuk menghabiskan stok vaksin di kabupaten/kota,” katanya. (*)

0 55

Makassar, humas.sulselprov.go.id – Tim Penggerak PKK Sulsel akan melakukan vaksinasi serentak hingga ke tingkat desa dan kelurahan di 24 kabupaten kota. Hal ini dilakukan untuk membantu pemerintah dalam mempercepat terbentuknya herd immunity atau kekebalan kelompok.

Pelaksana Tugas Ketua TP PKK Sulsel, Naoemi Octarina, mengatakan, kaum perempuan khususnya ibu-ibu memiliki peran besar dalam masyarakat. Karena itu, mereka harus dilibatkan untuk meyakinkan orang-orang di sekitarnya agar mau divaksinasi.

“Kondisi saat ini, tidak semua orangtua mengizinkan anak-anak mereka untuk divaksin, sehingga perlu dilakukan edukasi bahwa vaksin penting untuk membentuk herd immunity,” kata Naoemi, saat Rapat Pelaksanaan Sosialisasi Vaksinasi, yang dilaksanakan secara virtual, Rabu, 22 September 2021.

Ia mengungkapkan, PKK sebagai sebuah gerakan yang memiliki kader hingga ke tingkat desa, sudah seharusnya mengambil peran membantu pemerintah mempercepat terbentuknya herd immunity melalui vaksinasi. Sebelumnya, PKK sudah melaksanakan vaksinasi untuk ibu hamil dan vaksinasi khusus perempuan.

“Kita harus punya tanggung jawab dan komitmen untuk meningkatkan herd immunity, salah satunya tidak menyebarkan berita hoax. Kita bersama-sama menyusun strategi pelaksanaan vaksinasi serentak hingga ke tingkat desa dan kelurahan,” tuturnya.

Sementara, Pelaksana Tugas Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman, yang turut hadir memberikan arahannya, menyampaikan, PKK yang memiliki kader hingga ke tingkat desa/kelurahan, memang harus ikut dalam penanganan pandemi, termasuk vaksinasi. PKK harus menunjukkan kontribusi aktif melalui vaksinasi yang dilaksanakan serentak hingga ke tingkat desa.

“Jika ditarget seratus orang saja per desa, maka jumlah warga yang divaksin per hari se Sulsel sudah tiga ratus ribu. Tinggal bagaimana Ketua PKK di tingkat desa atau kelurahan ini mengkoordinir dengan baik. Bagi yang punya komorbid, PKK antarkan ke rumah sakit, vaksin di rumah sakit,” pesan Andi Sudirman.

Ia juga menyampaikan agar stok vaksin yang ada saat ini bisa segera dihabiskan.

Kepala Dinas Kesehatan Sulsel, dr Ichsan Mustari, dalam kesempatan tersebut mengaku siap mensupport pelaksanaan vaksinasi serentak yang akan dilaksanakan PKK. Gedung PKK di Kabupaten Kota bisa dijadikan sebagai sentra vaksinasi, termasuk sekolah-sekolah.

“Vaksin siap, ada stok di provinsi. Kami juga akan koordinasi dengan kabupaten kota. Kita segera lakukan persiapan-persiapan, dan pendaftaran bisa dilakukan secara online,” kata dr Ichsan. (*)

0 56

Makassar, humas.sulselprov.go.id – Bunda Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Sulawesi Selatan (Sulsel), Naoemi Octarina ST, menghadiri Pelantikan Pengurus Wilayah Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (HIMPAUDI) Provinsi Sulsel Periode 2021-2025, yang dilaksanakan secara virtual, Selasa, 21 September 2021. Dalam kesempatan tersebut, Naoemi mengajak para pengurus HIMPAUDI Sulsel bersinergi mewujudkan PAUD holistik integratif.

Naoemi mengatakan, Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas ditentukan sejak bayi dalam kandungan hingga anak usia 5 tahun. Karena itu, semua stakeholder terkait, HIMPAUDI, Bunda PAUD, PKK, dan mitra pemerintah lainnya, harus bersinergi. Iapun menekankan, agar anak usia dini ini ditekankan pada adab dan akhlak.

“Kita lihat sekarang banyak lansia diabaikan anak mereka, karena sejak kecil mungkin kurang ditekankan adab dan akhlak. Pendidikan bagi anak usia dini ini bukan hanya tanggung jawab guru saja, tapi merupakan tanggungjawab bersama termasuk orangtua,” ujarnya.

Pelaksana Tugas (Plt) Ketua TP PKK Sulsel ini mengungkapkan, salah satu tugas ke depan adalah mengubah pola pikir orangtua dalam mendidik anak-anaknya. Karena itu, perlu ada PAUD holistik terintegratif, minimal satu di setiap desa.

“Gizi anak-anak juga harus diperhatikan, jangan sampai anak-anak mengalami stunting. Kami di PKK telah membentuk tim stunting, dimana kami monitoring ibu hamil, sehingga saat melahirkan bayinya sehat dan berat badannya cukup. Kami juga sosialisasikan inisiasi menyusui dini,” tuturnya.

Ke depan, Noemi berharap program-program PKK dan Bunda PAUD, bisa disinergikan dengan HIMPAUDI. Pemprov Sulsel juga telah membentuk Gugus Tugas PAUD Holistik Integratif, dimana HIMPAUDI juga tergabung didalamnya.

Sementara, Ketua Umum HIMPAUDI, Prof Dr Netti Herawati MSi, memberikan pujian kepada Ketua HIMPAUDI Sulsel, Dr Ir Hj Andi Majdah M Zain MSi, yang pada kepengurusan periode sebelumnya mencatat prestasi luar biasa. Dan pada Musyawarah Wilayah yang dilaksanakan Maret 2021 lalu, kembali terpilih untuk kedua kalinya sebagai Ketua HIMPAUDI Sulsel.

“Ini bukan hanya amanah, tapi sebuah tanggung jawab yang harus dilaksanakan. Tetap jadi inspirator bagi yang lain. Perjuangkan agar setiap anak di Sulsel ini mendapatkan pengasuhan holistik integratif,” pesan Prof Netti.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua HIMPAUDI Sulsel, Dr Ir Hj Andi Majdah M Zain MSi, mengatakan, komunikasi dan kerjasama yang baik antar pengurus tentu harus diperhatikan, agar program HIMPAUDI untuk anak usia dini bisa dilaksanakan. Harus dipahami bersama, pendidikan yang paling utama dan mendasar adalah PAUD, dan butuh kesabaran dan kesungguhan dalam pengembangan PAUD ke depan.

“Semua harus bekerjasama mempersiapkan generasi penerus dan SDM dalam membangun bangsa ini,” kata Majdah.

Iapun berharap agar Bunda PAUD Sulsel Naoemi Octarina bisa memberikan arahan, bimbingan, bahkan teguran terhadap HIMPAUDI Sulsel, serta bersama-sama mewujudkan PAUD holistik integratif dan berkualitas. (*)

0 107

Makassar, humas.sulselprov.go.id – Plt Ketua TP PKK Sulsel yang juga Ketua Dekranasda Sulsel, Naoemi Octarina, menerima kunjungan silaturahmi istri Menteri Pemuda Olahraga Zainuddin Amali, Nadiah Alhamid, dan Istri Bupati Wajo Amran Mahmud, Siti Maryam, di Rumah Jabatan Gubernur Sulsel, Minggu malam, 12 September 2021.

Kunjungan Nadiah di Sulsel untuk menghadiri program Vaksinasi untuk Negeri DWP Kemenpora di beberapa persantren di Makassar. Sedangkan Siti Maryam melaporkan terkait kegiatan Pemkab Wajo dalam pameran produk keunggulan sutra di Mall Pipo Makassar. Keduanya disambut dalam perjamuan makan malam.

“Alhamdulillah Ibu Menpora datang ke sini, jadwalnya untuk mengunjungi kegiatan vaksinasi di pesantren. Juga meninjau beberapa sekolah yang belum divaksin dan Insyaallah akan dibantu untuk vaksin ini,” kata Naoemi Octarina.

Pada pertemuan dengan dialog santai ini, Naoemi selaku tuan rumah menyajikan menu tradisional seperti kue Barongko, kue dengan bahan dasar pisang yang dihaluskan.

“Beliau berkunjung, kita ngobrol santai saja. Tadi dapat info kalau ada program di Sulsel terkait bagaimana meningkatkan kreativitas para pemuda dan pemudi, ada program dari Kemenpora bisa kita kolaborasikan,” sebutnya.

Sedangkan, Siti Maryam yang merupakan Ketua TP PKK Wajo, menjelaskan, Pemkab Wajo hadir dengan pameran sutra Archipelago, di Phinisi Point Mall dari 3 – 12 September 2021.

“Kami sangat berharap setelah adanya kegiatan pertama kali setelah pandemi membuat kita sudah bisa mengembalikan kepercayaan diri dari UKM kita,” harapnya.

Pameran ini dilakukan selain untuk mengembalikan kepercayaan UKM yang terdampak pandemi Covid-19 juga sebagai bentuk upaya pemulihan ekonomi.

“Kedatangan kami juga mendapatkan kepercayaan mendampingi Ibu Gubernur menerima Ibu Menteri Pemuda dan Olahraga. Mudah-mudahan ini juga membantu kita menyambung tali silaturahim. Karena kita juga ketahui banyak juga ibu-ibu yang terlibat dalam usaha kecil, pemudi-pemudi kita yang punya talenta perlu mendapatkan perhatian khusus,” ucapnya. (*)

0 33
Makassar, humas.sulselprov.go.id - Sekertaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Sulsel, Abdul Hayat Gani, mengajak stakeholder sama-sama mengawal kebijakan prioritas nasional, dalam hal ini proyek kereta api...