Tags Posts tagged with "TP PKK Sulsel"

TP PKK Sulsel

0 137

Makassar, humas.sulselprov.go.id – Pelaksana Tugas Ketua Tim Penggerak PKK Sulsel, Naoemi Octarina, membuka Webinar Pengelolaan Sampah Berbasis Kawasan Sebagai Solusi Keberlanjutan Lingkungan di Provinsi Sulsel, Jumat, 25 Februari 2022. Webinar ini diikuti oleh PKK Tingkat Kecamatan se Sulsel.

Dalam webinar tersebut, Naoemi mengingatkan pentingnya mengenalkan isu lingkungan sejak anak usia dini. Sehingga, hal tersebut terbawa hingga mereka dewasa.

“Mulai dari hal kecil, mengajarkan anak-anak kita agar tidak membuang sampah di sembarang tempat,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, pengelolaan sampah berbasis kawasan di Sulsel bertujuan agar pengelolaan sampah konsisten dan berkelanjutan, sehingga masalah terkait isu lingkungan dapat teratasi. Menurutnya, cuaca ekstrem yang terjadi saat ini, salah satunya adalah karena masyarakat kita tidak peduli dengan isu lingkungan.

“Masalah sampah ini masih menjadi momok di seluruh dunia internasional,” ujarnya.

Kenaikan volume sampah, lanjut Naoemi, terus terjadi setiap harinya. Hal ini dikarenakan jumlah penduduk terus bertambah, sementara pengelolaan sampah masih sangat terbatas.

“Butuh keseimbangan antara volume sampah dengan bagaimana pengelolaan sampah yang baik dan benar serta berkelanjutan,” ungkapnya.

Isteri Andi Sudirman Sulaiman ini mencontohkan, pengelolaan sampah di Jakarta telah menggunakan penghancur sampah. Tapi, alat tersebut belum mampu menguras sampah yang jumlahnya mencapai ribuan ton perhari.

Di Sulsel, sambung Naoemi, persoalan sampah tidak lagi bisa dilakukan hanya dengan mengangkut sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Kondisi saat ini, sampah di TPA sudah menggunung, menimbulkan bau tak sedap, bahkan rentan mengakibatkan terjadinya kebakaran saat musim kemarau.

“Masalah sampah ini membutuhkan kesadaran kita bersama. Bukan hanya pemerintah, tetapi juga masyarakat dan organisasi yang ada. Dan PKK Sulsel siap bersinergi. Penanganan sampah harus dimulai dari rumah tangga, karena penghasil sampah paling banyak adalah rumah tangga. Masalah sampah ini menjadi tanggung jawab kita bersama untuk mengatasinya,” jelasnya.

Ia menambahkan, pengelolaan sampah berbasis kawasan ini penting, karena tiap daerah pasti berbeda karakter masyarakatnya, adat istiadat dan kebiasaannya, serta kebijakan di daerahnya masing-masing. Sehingga, akan memberikan gambaran spesifik.

“Pengelolaan sampah secara tepat dan optimal harus dilakukan. Edukasi untuk mengubah pola pikir masyarakat agar tidak membuang sampah di sembarang tempat harus terus dilakukan,” pungkasnya. (*)

0 264

Makassar, humas.sulselprov.go.id – Pelaksana Tugas Ketua Tim Penggerak PKK Sulawesi Selatan (Sulsel), Naoemi Octarina, membuka Webinar Sosialisasi Petugas Pendamping Keluarga (PPK) dan Aplikasi ELSIMIL, Jumat, 11 Februari 2022. Hadir membawakan materi, Kepala Perwakilan BKKBN Sulsel, Andi Ritamariani.

Naoemi mengatakan, Tim Penggerak PKK adalah mitra kerja pemerintah yang sangat dibutuhkan sumbangsihnya dan keterlibatannya, dalam membantu menyukseskan program pemerintah. PKK memiliki struktur yang jelas, mulai dari provinsi, kabupaten kota, hingga ke tingkat desa dan kelurahan.

Iapun berharap, kader dasawisma bisa lebih aktif lagi dalam setiap program PKK. Khususnya dalam pencegahan stunting.

“Seperti yang pernah disampaikan Bapak Plt Gubernur, bahwa apabila ibu-ibu yang bergerak, Insyaallah programnya jalan. Karena memang ujung tombaknya ada di ibu-ibu. Khususnya kader dasawisma, harus lebih aktif lagi,” ujarnya.

Menurut Naoemi, peran PKK Provinsi dan Kabupaten Kota dalam percepatan penanganan stunting bisa dilihat dalam beberapa hal. Antara lain, ikut dalam proses percepatan penanganan stunting, penurunan angka stunting, serta melakukan pemantauan dan pengendalian serta penilaian hasil program PKK terhadap penurunan stunting.

“Program penurunan stunting tidak boleh berhenti dalam jangka waktu tertentu, tetapi terus berkelanjutan,” tegasnya.

PKK, kata Naoemi, wajib mengetahui apa saja yang menjadi program pemerintah. Sehingga, PKK bisa terlibat. Salah satunya dalam program BKKBN, sebagai tim penggerak pendamping keluarga.

“Semua fokus mengikuti materi, sehingga bisa paham bagaimana mengaplikasikannya di masyarakat. Semoga kita bisa menyehatkan anak-anak kita, mulai dari pencegahan untuk menyiapkan mereka jadi generasi unggul, cerdas dan beradab,” harap Naoemi.

Sementara, Kepala Perwakilan BKKBN Sulsel, Andi Ritamariani, menjelaskan, Petugas Pendamping Keluarga (PPK) terdiri atas Bidan, Kader KB, dan Kader PKK. Adapun tugas dari PPK ini adalah adalah melakukan serangkaian kegiatan terhadap keluarga yang memiliki ibu hamil, pasca salin, anak dibawah lima tahun, dan calon pengantin/calon PUS untuk deteksi dini faktor stunting dan melakukan upaya meminimalisir atau pencegahan pengaruh faktor risiko stunting.

“Aplikasi ELSIMIL akan memudahkan kerja-kerja para petugas pendamping keluarga ini,” ujarnya.

Ia menjelaskan, penerapanan aplikasi ELSIMIL merupakan strategi pencegahan stunting dari hulu. Aplikasi itu berfungsi sebagai alat skrining guna mendeteksi faktor risiko pada calon pengantin. Tujuannya, memastikan mereka berada dalam kondisi ideal untuk menikah dan hamil.

“ELSIMIL dapat menghubungkan pula calon pengantin dengan petugas pendamping serta media edukasi tentang kesiapan menikah dan hamil, terutama mengenai faktor risiko stunting. Juga berfungsi sebagai alat pantau kepatuhan calon pengantin dalam melakukan perawatan peningkatan status gizi untuk mempersiapkan kehamilan yang sehat,” urainya. (*)

0 196

Makassar, humas.sulselprov.go.id – Pelaksana Ketua Tim Penggerak PKK Sulawesi Selatan (Sulsel), Naoemi Octarina ST, menghadiri 13 tahun Forum Kajian Cinta Al Qur’an (FKCA), yang dilaksanakan di Baruga Pattingalloang Rumah Jabatan Gubernur, Minggu, 9 Januari 2022. Kegiatan FKCA kali ini mengangkat tema Moderasi Beragama Menuju Tatanan Kehidupan yang Berkeadilan.

Dalam sambutannya, Naoemi mengapresiasi program-program FKCA, dalam membumikan dan memaknai Al Qur’an. Ia mengatakan, Al Qur’an sebagai tuntunan hidup umat Islam, tidak hanya untuk dihafal atau dibaca, tetapi juga sangat perlu untuk mentadabburi Al Qur’an.

“Kita harus membaca apa artinya. Setelah memahami artinya, apa maksudnya. Lalu, mengamalkannya. Jika ini bisa kita lakukan, maka negara kita akan aman dan damai,” kata isteri Andi Sudirman Sulaiman ini.

Inisiator komunitas Andalan Mengaji ini menuturkan, Islam adalah agama yang sempurna. Begitupun dengan kitab suci Al Qur’an, yang didalamnya mengatur bagaimana seharusnya manusia hidup di dunia. Karena itu, sangat penting bagi umat Islam memahami apa arti dan maksudnya.

“Khususnya bagi para orangtua, agar bisa mendidik anak-anaknya menjadi anak yang memiliki akhlak qur’ani. Karena yang paling penting adalah adab,” ujarnya.

Iapun berharap, FKCA di usia ke-13 tahun ini bisa semakin gencar dalam program-programnya untuk membumikan Al Qur’an, bersinergi dengan organisasi-organisasi Islam, serta pemerintah. Semakin berjaya, sukses, dan senantiasa berada di hati masyarakat.

Sementara, Ketua Dewan Pembina FKCA, Dr Ir Hj Andi Majdah M Zain Agus Arifin Nu’mang MSi, dalam kesempatan ini menceritakan bagaimana awal mula FKCA berdiri pada tahun 2009 lalu. Dimana, ketika itu muncul kegelisahan dari sekelompok ibu-ibu pengajian, yang belum memahami Al Qur’an.

“Ada kerisauan kami dari kelompok pengajian. Kami berupaya menghapal, one day one ayat. Kami belajar membaca Al Qur’an. Tapi, karena latar belakang kami bukan dari pesantren, kami agak kesulitan memahami. Akhirnya, kami terus mencari cara mudah dalam memahami Al Qur’an. Dan ayat demi ayat kami tadabburi,” ungkapnya.

Perintah memahami Al Qur’an, lanjut Majdah, ada di dalam Al Qur’an. Al Qur’an bukan hanya untuk dibaca, tapi untuk dipahami.

“Melalui metode yang ada, kami berharap dan terus berupaya untuk memberantas buta makna Al Qur’an. Pelan tapi pasti. Hingga sekarang FKCA sudah ada di 24 kabupaten kota. Bahkan, beberapa provinsi sudah ada yang siap. Seperti Sulbar, Sultra, Sulteng. Juga sudah ada pembicaraan untuk membuka FKCA Cabang New York,” tuturnya.

Kegiatan 13 tahun FKCA kali ini, juga hadir Prof Dr Hj Amany Burhanuddin Umar Lubis Lc MA, Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. FKCA mengundang perempuan yang menguasai berbagai bahasa asing ini untuk memotivasi, memberi spirit, untuk berkontribusi menciptakan tatanan kehidupan masyarakat yang rahmatan lil alamin. (*)

0 240

Makassar, humas.sulselprov.go.id – Pelaksana Tugas Ketua Tim Penggerak PKK Sulsel, Naoemi Octarina, membuka Webinar Sosialisasi Rehabilitasi Berbasis Masyarakat (RBM) dan Kader Posyandu Kelurahan Bontoa, Kabupaten Maros, Senin, 20 Desember 2021. Kegiatan ini dilaksanakan Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Indonesia (Perdosri), dimana Kelurahan Bontoa sebagai pilot project.

Dalam arahannya, Naoemi Octarina mengucapkan terima kasih dan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada Perdosri Sulawesi Papua, yang telah menginisiasi kegiatan ini, sebagai wujud kepedulian bersama dalam merangkul warga dsekitar yang terindikasi sebagai penyandang disabilitas. Sekaligus, mendorong mereka agar dapat pulih dan menjalankan fungsinya di lingkungan sosial.

“Kita semua berharap, para penyandang disabilitas dan juga penyintas narkotika, dapat melaksanakan fungsi sosialnya sebagaimana mestinya, sesuai bakat dan kemampuannya, dan mendapatkan pendidikan yang layak,” ujarnya.

Isteri Andi Sudirman Sulaiman ini mengungkapkan, proses rehabilitasi bagi penyandang disabilitas dan penyintas narkotika tidak dapat berjalan sendiri-sendiri, dan harus melibatkan berbagai pihak. Selama ini, penyandang disabilitas kerap mendapatkan stigma negatif, hingga mendapatkan perlakuan diskriminatif.

“Ada juga yang memanfaatkan kekurangan mereka, padahal mereka berhak mendapatkan segala akses dan posisi yang sama di pemerintahan,” imbuhnya.

Menurut Naoemi, anak-anak disabilitas memiliki bakat yang luar biasa. Tinggal bagaimana kita melakukan rehabilitasi, hingga mereka tetap berpikiran positif bahwa mereka juga punya kesempatan yang sama, dengan anak-anak normal lainnya.

“Mudah-mudahan, tahun 2022 nanti, kegiatan rehabilitasi berbasis masyarakat ini makin berkembang dan memberikan efek positif kepada penyandang disabilitas dan pola pikir masyarakat di lingkungan sekitar, dan pemerintah bisa memberikan ruang atau fasilitas kepada penyandang disabilitas, mulai dari layanan kesehatan, pendidikan dan layanan sosial lainnya,” harapnya.

Sementara, Ketua Perdosri Sulawesi Papua, Rumaisah Hasan, mengatakan, kegiatan yang dilaksanakan selama empat hari ini, 20 – 24 Desember 2021, dalam rangka Peringatan Hari Disabilitas Internasional. Melalui kegiatan ini, ia berharap rehabilitasi bagi penyandang disabilitas tidak lagi dilakukan secara sendiri-sendiri, tapi bekerjasama dengan semua stakeholder.

“Disabilitas bisa terjadi kepada siapa saja. Tidak tertutup kemungkinan, mungkin saja diri kita sendiri atau orang-orang tersayang kita mengalami, maka kemampuan atau pengenalan manajemen disabilitas adalah hal yang perlu disosialisasikan,” terangnya.

Dalam webinar ini, Ketua Yayasan Darul Istiqomah Maros, Prof Veni Hadju, sebagai pihak yang turut dilibatkan dalam kegiatan ini, mengaku berterima kasih karena mendapat kesempatan menjadi pilot project dalam kegiatan ini. Sebagai pembina di Darul Istiqomah, ia melihat tantangan semakin banyak karena kelahiran anak-anak yang mengalami gangguan disabilitas semakin banyak di sekitar pesantren.

“Ini menjadi salah satu yang bisa mendekatkan pesantren ke masyarakat. Anak-anak disabilitas harus dibina dengan baik, termasuk dalam hal keagamaan,” kata Prof Veni Hadju. (*)

0 308

Makassar, humas.sulselprov.go.id – Tim Penggerak PKK Pusat dan Sulsel, bekerjasama menggelar Pelatihan Peningkatan Pemasaran Dengan Penerapan Teknik Digital, yang dilaksanakan di Hotel Horison Makassar, Kamis, 16 Desember 2021. Pelatihan ini diikuti kader PKK dan pelaku UMKM di Kabupaten Gowa, Maros, Pangkep, dan Takalar.

Plt Ketua TP PKK Sulsel, Naoemi Octarina, mengatakan, saat ini semua informasi, termasuk pemasaran barang dan jasa, sudah bisa diakses dengan mudah melalui plaform digital. Berdasarkan data yang ada, 65 juta penduduk Indonesia melakukan pencarian barang melalui internet.

“Potensi belanja online masyarakat Indonesia sangat tinggi. Karena itu, ini menjadi peluang bagi pelaku UMKM untuk meningkatkan penjualan barang dan jasanya melalui internet,” kata Naoemi.

Plt Ketua Dekranasda Sulsel ini juga mengungkapkan, sistem pemasaran produk barang dan jasa melalui platform digital cenderung sulit dan rumit, jika tidak dibarengi kemampuan dan pengetahuan. Padahal, platform digital ini memudahkan dan membantu pelaku UMKM, karena punya kemampuan menjangkau area lebih luas, memudahkan dalam menyapa banyak pelanggan hingga calon pembeli, kemudahan dalam pemesanan, bahkan biayanya lebih murah dibanding pemasaran konvensional.

“Ada banyak tantangan pelaku UMKM dalam memanfaatkan platform digital. Karena itu, PKK dan Dekranasda Sulsel bersama PKK Pusat, memberikan perhatian kepada UMKM melalui pelatihan ini,” ujarnya.

Sementara, Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Pemprov Sulsel, dr Ichsan Mustari, mewakili Plt Gubernur Sulsel, pada kesempatan tersebut, menyampaikan, akibat Covid-19, masyarakat seolah ‘dipaksa’ untuk menggunakan teknologi. Adaptasi kebiasaan baru harus diterapkan, agar aktivitas masyarakat bisa terus berjalan di tengah beragam pembatasan.

“Dalam kondisi pandemi, ekonomi kita banyak didorong oleh UMKM. Pemasarannya pun menggunakan digital. Tapi yang harus dijaga adalah kualitas produk, kecepatan, ketepatan, dan safety,” terangnya.

Sedangkan, Ketua Bidang III PKK Pusat, Irma Zainal, yang mewakili Ketua TP PKK Pusat membuka pelatihan tersebut, mengatakan, PKK Pusat bekerjasama dengan PKK Sulsel, menyelenggarakan pelatihan ini untuk membantu kader PKK dan pelaku UMKM untuk mengembangkan usahanya. Apalagi, di masa pandemi ini, perekomomian masyarakat harus dipulihkan.

“Selama ini, produk-produk UMKM kita masih terkendala dengan pemasaran yang dilakukan secara konvensional. Transaksi e-commerce tahun ini tercatat Rp 400 triliun lebih. Ini membuktikan potensi pasar secara digital sangat besar,” pungkasnya. (*)

0 175

Makassar, humas.sulselprov.go.id – Pelaksana Tugas Ketua Tim Penggerak PKK Sulawesi Selatan (Sulsel), Naoemi Octarina, melakukan evaluasi pelaksanaan program PKK Tahun 2021 secara menyeluruh, baik yang dilaksanakan pengurus provinsi, maupun kabupaten kota. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui apa saja kendala, hambatan, dan kekurangan, untuk dilakukan perbaikan pada program di tahun 2022 mendatang.

“Kita telah melaksanakan program dan kegiatan PKK di tahun 2021. Seluruh kabupaten kota telah melaksanakan dengan baik dan maksimal. Dan evaluasi kegiatan ini perlu kita lakukan, untuk mengindentifikasi kendala-kendala yang dihadapi, serta kekurangan-kekurangan yang membutuhkan perbaikan untuk pelaksanaan kegiatan ke depannya, tentunya di tahun 2022,” kata Naoemi, pada Sosialisasi Kebijakan Gerakan PKK, yang dilaksanakan di Hotel Claro Makassar, 7 – 9 Desember 2021.

Menurut Naoemi, gerakan PKK adalah gerakan pengabdian kepada masyarakat. Karena itu, program PKK harus memberikan manfaat yang sebesar-besarnya kepada masyarakat. Program yang dicanangkan harus dimonitoring dan dievaluasi, apakah manfaatnya dirasakan oleh masyarakat secara keseluruhan.

“Kami harap, dengan hadirnya Ketua PKK Kabupaten Kota, mungkin ada masukan yang diberikan kepada pemerintah provinsi terkait isu utama yang ada di wilayah masing-masing, untuk kita masukkan sebagai program bersama,” ujarnya.

Terkait kegiatan sosialisasi ini, lanjut Naoemi, dilaksanakan untuk menyamakan persepsi gerakan PKK Sulsel ke depan. Pengurus PKK Sulsel telah membuat Standar Operasional Prosedur (SOP) yang telah disusun dan akan disahkan. SOP ini sebagai pedoman untuk memudahkan pelaksanaan kerja, guna mewujudkan tertib administrasi.

“Yang harus digarisbawahi, tidak hanya pelaksanaan yang bagus, tapi tertib administrasi juga. SOP ini berisi tahapan dan urutan pekerjaan yang akan menuntun dalam menyelesaikan tugas. Dengan adanya SOP ini, kinerja oengurus PKK Sulsel dan Kabupaten Kota, lebih terarah dan optimal. Dengan demikian, tujuan bisa lebih mudah tercapai,” terangnya.

Dalam kesempatan tersebut, isteri Andi Sudirman Sulaiman ini kembali mengingatkan mengenai hasil Rapat Kerja Nasional (Rakernas) yang mengamanahkan empat agenda prioritas. Antara lain, memfokuskan pada ketahanan ekonomi masyarakat, revolusi mental, pelestarian lingkungan hidup, serta memperkuat pelayanan dasar.

“Ada beberapa agenda utama yang harus menjadi perhatian kita bersama. Yakni penanganan pandemi Covid-19, penanganan stunting, penguatan ekonomi masyarakat, dan sejumlah agenda lainnya. Saya harap, Ibu-ibu Ketua PKK mengikuti dengan seksama, memberikan masukan, dan merangkum program bersama-sama,” imbuhnya. (*)

0 242

Makassar, humas.sulselprov.go.id – Pelaksana Tugas Ketua TP PKK Sulsel, Naoemi Octarina, menghadiri peringatan Hari Disabilitas Internasional Tingkat Provinsi Sulsel, yang dipusatkan di SLB Negeri Makassar, Jumat, 3 Desember 2021. Kegiatan ini berlangsung meriah, dan diikuti 87 SLB negeri maupun swasta, yang ada di 24 kabupaten kota.

Naoemi dalam sambutannya mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan, karena melibatkan anak-anak berkebutuhan khusus dan para orangtua mereka. Iapun memberikan semangat kepada para orangtua dan guru, agar tetap sabar dan ikhlas membimbing anak-anak istimewa tersebut.

“Ingat, tidak ada produk cacat dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Semua ciptaannya sempurna. Sebagai orangtua, tetap sabar dan ikhlas mendampingi dan mendidik anak-anak kita, agar menjadi anak yang mandiri dan memiliki masa depan,” ujarnya.

Di PKK, lanjut Naoemi, Pokja 1 dan 2 menangani mengenai pendidikan dan keterampilan serta pola pengasuhan anak. Karena itu, fasilitasi untuk anak-anak berkebutuhan khusus harus dimasukkan sebagai program kerja di tahun 2022 mendatang, bersinergi dengan OPD.

“Ke depan, kami akan memberikan ruang atau fasilitasi lebih luas lagi untuk anak disabilitas. Anak-anak kita ini butuh perhatian, dan jangan dibeda-bedakan,” pesan isteri Andi Sudirman Sulaiman ini.

Iapun mengaku tersentuh dengan sambung ayat Al Quran yang ditampilkan oleh anak-anak tunanetra. Menurutnya, hal tersebut harus menjadi bahan introspeksi diri bagi mereka yang normal.

“Mereka yang punya kekurangan, sangat fasih dan hafal qur’an. Kenapa kita yang normal tidak? Ini harus jadi bahan introspeksi, termasuk untuk diri saya pribadi. Anak-anak kita harus diberi semangat,” tuturnya.

Sementara, Plt Gubernur Sulsel yang diwakili Plt Kepala Dinas Pendidikan Sulsel, Imran Jausy, mengatakan, acara ini harus dijadikan momentum untuk menegaskan kembali bagaimana perlindungan terhadap penyandang disabilitas. Iapun berharap, masyarakat lebih peduli terhadap anak disabilitas.

“Penyandang disabilitas juga memiliki akses dan ruang yang lapang dalam mengakses pendidikan, kesehatan dan pekerjaan,” ujarnya.

Sekedar informasi, peringatan Hari Disabilitas Internasional Tingkat Provinsi Sulsel diisi dengan Festival Anak Disabilitas, yang diikuti 87 SLB Negeri dan Swasta dari 24 kabupaten kota. Acara diisi dengan pameran, lomba menyanyi lagu daerah, peragaan busana, tari kreasi, baca puisi, dan lomba mewarnai. Seluruh pembawa acara dalam kegiatan ini merupakan penyandang disabilitas. (*)

0 157

Makassar, humas.sulselprov.go.id – Pelaksana Tugas Ketua Tim Penggerak PKK Sulsel, Naoemi Octarina, menjadi pembicara pada Webinar Aksi Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim Sulsel, Senin, 29 November 2021. Dalam webinar tersebut, ia memaparkan terkait perilaku ramah lingkungan dimulai dari rumah.

Naoemi menjelaskan, perilaku ramah lingkungan harus dibiasakan dari rumah. Bagaimana kaum perempuan, khususnya ibu-ibu yang memegang kendali dalam rumah tangga, membuat aturan mengenai pengelolaan sampah rumah tangga. Salah satunya, bagaimana memisahkan sampah organik dan sampah plastik.

“Kita harus ajari anak-anak kita, bagaimana memisahkan sampah yang bisa didaur ulang dan tidak,” kata isteri Andi Sudirman Sulaiman ini.

Ia mengungkapkan, saat ini sudah ada Bank Sampah, sehingga sampah-sampah yang terkumpul selain bermanfaat untuk lingkungan, juga untuk keluarga. Menabung di Bank Sampah akan diberikan buku tabungan, sehingga anak-anak akan termotivasi.

“Sampah plastik ini berkaitan dengan perubahan iklim. Karena, plastik ini menghasilkan emisi karbon yang tinggi. Karena itu, pemerintah sekarang membuat gerakan menghemat kantongan kresek, dan menggantinya dengan tas ramah lingkungan,” jelasnya.

Selain pemilahan sampah, perilaku ramah lingkungan lainnya yang bisa dimulai dari rumah, lanjut Naoemi, adalah membatasi penggunaan listrik sesuai kebutuhan, embuat area hiiau di sekitar pekarangan rumah, serta mengoptimalkan pemakaian air.

Sementara, Kepala Pusat Pelatihan Masyarakat dan Pengembangan Generasi Lingkungan, yang diwakili Susi Susilawati, saat membuka webinar tersebut, mengungkapkan, kelompok perempuan merupakan salah satu kelompok strategis dalam aksi adaptasi lingkungan ini. Ia berharap, kegiatan ini bisa berlangsung berkelanjutan, dan ada gerakan terus-menerus dari masyarakat dalam adaptasi mitigasi perubahan iklim.

“Indonesia sudah berkomitmen untuk menurunkan emisi karbon. Tentu banyak hal yang bisa kita lakukan, diantaranya pengelolaan sampah, efisiensi energi, efisiensi air, dan perubahan tingkah laku kita. Banyak hal yang bisa kita lakukan, mulai dari diri kita sendiri dan lingkungan kita,” terangnya. (*)

0 183

Makassar, humas.sulselprov.go.id – Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) terus berupaya dalam menekan angka stunting pada anak. Upaya itu kini membuahkan hasil. Dari data ePPGBM Elektronik Pencatatan & Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat, hingga Agustus 2021, angka stunting di Sulsel mencapai di angka 9,08 persen.

Kabar baik itu pun menjadi salah satu pencapaian baik di momentum Hari Kesehatan Nasional (HKN) 12 November 2021 ini. Apalagi angka itu pun bahkan melampaui target pemerintah pusat untuk menekan angka stunting pada tahun 2024 menjadi 14 persen.

Pelaksana Tugas Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel), Andi Sudirman Sulaiman, menyampaikan, keberhasilan ini atas sinergi bersama hingga di tingkat pemerintah desa/kelurahan.

“Alhamdulillah, angka stunting di Sulsel turun signifikan hingga 9.08 persen. Ini melampaui target Nasional 14 persen untuk tahun 2024,” ujarnya, Sabtu (13/11/2021).

Ia menuturkan, capaian ini merupakan kerja bersama. “Alhamdulillah, membuahkan hasil. Semoga penurunan stunting ini menjadi pemacu semangat kita bersama untuk terus bekerja dalam terus menekan angka stunting di Sulawesi Selatan,” jelasnya.

Andi Sudirman mengakui, dengan menekan angka stunting merupakan sebuah investasi untuk masa depan yang lebih baik. “Dengan menekan angka stunting, sama halnya kita menyelamatkan generasi bangsa. Ini adalah investasi sumber daya manusia, bahkan diatas investasi infrastruktur. Dengan investasi SDM ini, maka kedepan mereka bisa membangun atau menjadi pemimpin yang lebih baik untuk daerah kita,” terangnya.

Pemprov Sulsel, kata dia, terus mendorong program dalam mengentaskan angka stunting dan gizi buruk. Salah satunya, menetapkan lokus-lokus untuk menekan angka stunting dengan pendampingan oleh tenaga kesehatan.

Dalam menekan stunting, lanjutnya, turut serta dibantu oleh ibu-ibu dari Tim Penggerak PKK Provinsi Sulsel hingga PKK tingkat kabupaten, serta PKK tingkat kecamatan maupun desa/kelurahan.

“Kita harap tidak ada lagi bayi lahir dalam keadaan stunting. Olehnya itu, pentingnya pendampingan kepada keluarga seribu hari pertama kehidupan dan memberikan paket intervensi gizi pada anak dan ibu hamil,” tuturnya. (*)

0 120

Makassar, humas.sulselprov.go.id – Ketua Tim Penggerak PKK Sulawesi Barat (Sulbar), Andi Ruskati Ali Baal Masdar, membawa seluruh pengurusnya melakukan studi banding dalam rangka penguatan kelembagaan dan peningkatan 10 program kerja PKK Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel). Rombongan diterima Pelaksana Tugas Ketua PKK Sulsel, Naoemi Octarina, di Gedung Kartini Makassar, Kamis, 11 November 2021.

Di awal sambutannya, Naoemi mengucapkan selamat datang kepada Andi Ruskati Ali Baal Masdar, sekaligus menyampaikan terima kasih karena memilih Sulsel sebagai lokasi studi banding. Iapun menjelaskan sejumlah program PKK Sulsel, yang dilaksanakan di tengah pandemi Covid-19.

“Gedung ini adalah gedung PKK yang disewakan untuk acara hajatan. Namun, saat memasuki masa pandemi, dimana kegiatan masyarakat dibatasi, gedung ini disulap menjadi pusat gerakan cepat tanggap, yang ketika itu diinisiasi oleh Ketua PKK, Ibu Lies F Nurdin,” ujarnya.

Saat pandemi mencapai puncak pada tahun 2020 lalu, Gedung Kartini menjadi pusat edukasi protokol kesehatan. Setiap pekan ada pembagian masker hingga sembako. Bahkan menjadi lokasi pelaksanaan rapid test.

“Akhir tahun 2020, kondisi kembali membaik, dan gedung ini kembali dimanfaatkan oleh masyarakat yang ingin menyelenggarakan hajatan, dengan harga yang terjangkau,” jelasnya.

Di tengah pandemi Covid-19, lanjut Naoemi, PKK Sulsel mulai dari Pokja I hingga Pokja IV, melakukan berbagai inovasi dalam pelaksanaan 10 program PKK. Pokja I misalnya, melaksanakan kegiatan kajian bulanan, karantina dan lomba tahfidz qur’an, dan program sosialisasi Keluarga Indonesia Sadar Administrasi Kependudukan atau KISAK.

“Khusus program KISAK ini, kami dibantu oleh PLN,” ungkapnya.

Selanjutnya untuk Pokja II, menggandeng PT POS Indonesia, PKK Sulsel memberikan ruang belajar bagi anak-anak down syndrome untuk melatih gerakan motorik mereka. Adapula program pengembangan karakter anak usia dini melalui gerakan Koper Kasih Sayang yang dilaksanakan di berbagai lokasi.

Pokja II juga bekerjasama dengan Pokja Bunda PAUD, serta Dinas Perpustakaan Sulsel, untuk menghadirkan perpustakaan ibu dan anak yang ramah lingkungan. Perpustakaan ini dilengkapi dengan luas ruang laktasi, alat bermain anak, hingga taman.

Untuk Pokja III, juga bekerjasama dengan PLN, melaksanakan lomba masak berbahan dasar pangan lokal, yang diikuti oleh Ketua TP PKK kabupaten kota. Program ini sekaligus untuk mensosialisasikan greenlife, dengan penggunaan kompor induksi.

Sedangkan Pokja IV, melaksanakan vaksinasi serentak di 24 kabupaten kota. Juga bekerjasama dengan PT POS Indonesia, memberikan bantuan tempat sampah yang ditempatkan di Rammang-rammang Kabupaten Maros.

“Kami juga membuat 15 MoU dengan OPD Pembina, dan setiap bulan melakukan rapat untuk mensinergikan program kerja. Jadi, kami membuat tiga kategori untuk program PKK ini. Ada kategori sinergi dengan OPD, sinergi dengan BUMN, serta kategori charity,” urainya.

Setelah mendengar pemaparan Naoemi, Ketua TP PKK Sulbar, Andi Ruskati, memberi apresiasi kepada PKK Sulsel yang sukses melaksanakan berbagai program, walaupun dalam kondisi terbatas akibat pandemi. Iapun berharap bisa belajar banyak dari PKK Sulsel, sehingga PKK Sulbar bisa sehebat PKK Sulsel.

“Kami harap bisa belajar dan sharing dengan PKK Sulsel terkait kegiatan-kegiatan yang ada. Sehingga, apa yang akan kami laksanakan ke depan bisa meningkat, seperti yang dilaksanakan Sulsel. Karena saat ini, kami betul-betul belum bisa seperti PKK Sulsel saat ini,” ujar Andi Ruskati. (*)

0 242
Luwu, humas.sulselprov.go.id - Musibah banjir melanda Kabupaten Luwu, Senin, 14 Maret 2022 sekitar pukul 17.30 Wita. Banjir ini diakibatkan hujan deras yang berlangsung lama....